Skip to content
22/06/2010 / Windy

Kisah Bocah Tumor yang Matanya Nyaris Copot

mata2wihans.com | wihans.web.id [ kesehatan ] : Nurrudin dan Kholifah hanya mampu meneteskan air mata kesedihan ketika mendengar rengekkan dan tangisan Miftakhul Abidin (6), buah hatinya. Putra bungsu dari tiga bersaudara itu kini mengalami penyakit tumor yang terus menekan bola matanya keluar dari kelopaknya.“Kalau pas merasakan sakit, dia (Miftahul Abidin) hanya mampu menangis. Saya tidak kuat melihatnya seperti itu. Namun hanya inilah yang bisa saya lakukan. Membiarkan dia dirawat di rumah, sambil mencari cara pengobatan alternatif,” kata Nurrudin, pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang jahit ini seperti dilansir beritajatim.com, Selasa (22/6).

Semakin hari, bola mata kiri Miftakul Abidin semakin membesar dan terlihat keluar dari kelopak mata. Bahkan, kini bagian kanan yang sebelumnya normal, juga mulai membengkak. Nurrudin dan Kholifah semakin takut dengan kondisi kesehatan anaknya. Terlebih, kondisi keuangan mereka kian kritis.

Nurrudin bercerita, penderitaan yang dialami anaknya itu berawal sejak dua bulan terakhir, ketika mata kirinya digigit semut. Saat itu, Abidin, sebutan akrab Miftakhul Abidin, tertidur di kamar dengan ibunya, Kholifah. Pagi harinya, Abidin terbangun dan mengeluhkan matanya gatal.

“Oh, itu digigit semut, Nak. Nanti juga sembuh,” kata Nurrudin, sambil mengingat kembali kejadian nahas itu. Awalnya, kelopak mata bocah yang baru duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) itu terdapat benjolak kecil dan tampak memerah.

Benjolan itu, sahut Kholifah, tidak kian membesar dan membuat mereka curiga. Tepat seminggu setelah digigit semut itu, Kholifah dan suaminya memutuskan untuk memeriksakan Abidin ke Rumah Sakit Islam (RSI) Al-arafah, Kelurahan Banjar Mlati, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

“Dua kali saya periksakan ke sana (RSI AL-arafah), tetapi hanya dikatakan benjolan biasa. Kami pun hanya disuruh untuk membeli obat di apotik dan berobat jalan,” terang Kholifah.

Meski telah diobati selama dua hari, namun benjolan pada kelopak mata Abidin kian membesar, dan merasakan sakit. Keluarga memutuskan untuk membawa adik dari Mochammad Arif Bachroeni (11), itu ke dokter Trubus. Akan tetapi, Nurrudin dan Kholifah hanya memperoleh jawaban yang sama seperti di RSI Al-Arafah.

“Kemudian kami membawanya ke Puskesmas Mojo, sampai akhirnya kami disarankan untuk rujuk ke RSUD Pelem, Pare. Kami sudah mencari surat keterangan tidak mampu, dan memperoleh kartu Jamkesda. Akan tetapi, RSUD Pelem justru meminta saya untuk membawanya ke rumah sakit yang ada Surabaya. Lalu saya bawa ke Karangmenjangan,” paparnya Nurrudin.

(inilah)

%d bloggers like this: